Intellectuality, Spirituality, Integrity

UIN RIL Dukung Komitmen Kemenag Jadikan PTKIN Berkelas Dunia di AICIS+ 2025

  • Admin Humas
  • Kamis, 30 Oktober 2025
  • 307 Tampilan
Forum Rektor PTKIN di sela kegiatan AICIS+ 2025
Forum Rektor PTKIN di sela kegiatan AICIS+ 2025

Depok (Humas UIN RIL) – Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) kembali menegaskan komitmennya untuk mendorong Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) menuju standar universitas kelas dunia. Hal ini disampaikan dalam ajang Annual International Conference on Islam, Science, and Society (AICIS+) 2025 yang berlangsung di Jakarta.

Dalam Forum Rektor PTKIN yang digelar di sela kegiatan AICIS+ pada Rabu (29/10), Kemenag bersama para rektor dan akademisi lintas kampus membahas langkah konkret mendorong PTKIN “go global”. Salah satu fokus utama forum ini adalah penguatan program dual degree dan kolaborasi riset internasional dengan universitas ternama dunia.

Salah satu capaian yang mendapat perhatian besar adalah keberhasilan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) menjalankan program dual degree dengan dua kampus prestisius di Inggris, yakni SOAS University of London dan University of Edinburgh. Program yang dimulai pada 2021 itu telah meluluskan 14 mahasiswa pertama pada Agustus 2025.

Mahasiswa peserta program menempuh satu tahun studi di UIII dan satu tahun di kampus mitra di Inggris. Program ini didukung oleh The British Council serta pembiayaan dari Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB), hasil kolaborasi antara Kemenag dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

“Ini bukan sekadar pengiriman mahasiswa ke luar negeri, tetapi bentuk investasi jangka panjang untuk melahirkan sarjana muslim Indonesia yang berdaya saing global, berpikir kritis, dan unggul dalam riset,” ujar Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron.

Selain kerja sama dengan Inggris, UIII juga memperluas kemitraan internasional dengan Deakin University, Australia, khususnya di bidang pendidikan dan humaniora. Kemenag juga membuka peluang kolaborasi baru dengan universitas di Afrika, Timur Tengah, dan Rusia untuk memperkuat jaringan akademik lintas benua.

“Kita ingin membangun koneksi keilmuan global. Dari Eropa kita pelajari kekuatan riset, dari dunia Islam kita perkuat tradisi pengetahuan dan nilai. Kolaborasi ini akan melahirkan sarjana Islam yang unggul di dua dunia,” ungkap salah satu rektor PTKIN peserta AICIS+ 2025.

Dalam sesi diskusi, Prof. Ayman Syihade dari SOAS University of London menegaskan transformasi paradigma studi Islam di SOAS yang kini berorientasi kritis dan kolaboratif.

“Kami tidak lagi mengajarkan Islam dari jarak pandang luar, tetapi berdialog langsung dengan tradisi dan pemikiran Islam itu sendiri. Kami ingin dunia Islam menjadi pusat pembahasan dalam humaniora global,” jelasnya.

Program MA Islamic Humanities di SOAS dirancang untuk memperkuat kemampuan analisis, penulisan akademik, dan riset mahasiswa dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Kemenag juga memastikan adanya program pre-departure training bagi mahasiswa peserta dual degree. Melalui pelatihan intensif bahasa Inggris, mahasiswa dibekali kemampuan untuk memenuhi standar IELTS minimal 6.5 sebagai syarat studi di Inggris.

Selain bagi mahasiswa, peluang kerja sama juga terbuka bagi dosen dan peneliti PTKIN melalui program visiting scholar, riset kolaboratif, dan publikasi di jurnal bereputasi internasional seperti Journal of Qur’anic Studies.

Forum Rektor PTKIN di AICIS+ 2025 menjadi ajang refleksi dan langkah nyata bagi perguruan tinggi Islam Indonesia untuk memperkuat eksistensinya di panggung global.

Kemenag menargetkan PTKIN tak hanya dikenal sebagai pusat studi agama, tetapi juga sebagai pusat riset, inovasi, dan pemikiran Islam modern yang diakui dunia.

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D, turut hadir dalam forum tersebut. Sebagai bagian dari upaya memperkuat internasionalisasi, UIN Raden Intan Lampung saat ini juga tengah mencanangkan program double degree hasil tindak lanjut kerja sama dengan Suez Canal University, Mesir.

Program ini dirancang untuk jenjang magister pada Program Studi S2 Pendidikan Bahasa Arab dan akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat. Kedua pihak telah membahas skema perkuliahan serta teknis pelaksanaan program yang akan berlangsung selama dua tahun yaitu masing-masing satu tahun di UIN RIL dan satu tahun di Suez Canal University.

Perkuliahan dapat dilakukan secara luring maupun daring untuk sejumlah mata kuliah dari pihak Mesir, sementara ujian akhir atau munaqosah akan dilaksanakan secara langsung di kampus mitra di Mesir. Program ini juga terbuka bagi mahasiswa baru S2 Pendidikan Bahasa Arab UIN RIL.

“Insya Allah ini akan sangat bermanfaat, terutama bagi mahasiswa Pascasarjana. Kami berharap kerja sama ini menjadi sarana pertukaran ilmu, budaya, dan pengalaman antarnegara,” pungkas Prof. Wan Jamaluddin.