Refleksi Akhir Tahun, Menag Sampaikan Pidato Kebudayaan Bertajuk “Towards a Loving Future Ummah”
- Admin Humas
- Selasa, 23 Desember 2025
- 645 Tampilan

Jakarta (Humas UIN RIL) – Menteri Agama (Menag) RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menyampaikan Pidato Kebudayaan dengan bertajuk Refleksi Akhir Tahun: “Towards a Loving Future Ummah”.
Pidato ini disampaikan pada Refleksi 2025 dan Proyeksi 2026 Kementerian Agama RI serta Launching Indeks Kementerian Agama Tahun 2025 di Millenium Hotel Jakarta, Senin (22/12/2025) malam.
Dalam pidato tersebut, Menag menyebut Bhinneka Tunggal Ika sangat penting sebagai kerangka berpikir moderasi beragama agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber konflik.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia sejak awal dibangun dari beragam suku, agama, dan tradisi yang saling bersinggungan. Namun, lanjutnya, ketika perbedaan hanya dilihat di permukaannya, ruang dialog menjadi sempit dan kecurigaan mudah tumbuh.
“Bhinneka Tunggal Ika itu bukan sekadar slogan pemersatu. Ia adalah doktrin kebudayaan yang lahir dari pengalaman panjang bangsa ini hidup dalam perbedaan. Tanpa pemahaman itu, perbedaan mudah sekali berubah menjadi konflik,” ujar Menag.
Prof. Nasaruddin menekankan bahwa Bhinneka Tunggal Ika harus menjadi cara berpikir kolektif dalam mengelola keberagaman. Tanpa kerangka itu, masyarakat mudah terjebak pada sikap eksklusif dan merasa paling benar.
“Perbedaan adalah keniscayaan sejarah. Tetapi persatuan adalah pilihan sadar yang harus terus diperjuangkan. Di situlah fungsi Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan beragama,” tuturnya.
Menag mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berani mengambil peran dalam merawat kebudayaan dan moderasi beragama. Dikatakannya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh keberanian mengambil langkah sejak sekarang.
“Kalau kita menunda terus, kita akan kehilangan arah kebudayaan kita sendiri. Tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan kepada satu generasi saja. Ini kerja bersama yang harus dimulai hari ini,” ungkapnya.
Pada acara tersebut, dirilis juga Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 mencapai 77,89, skor tertinggi sejak survei 2015.
Hal ini berdasarkan survei Evaluasi Kerukunan Umat Beragama 2025 oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat (P3M) Universitas Indonesia (UI).
Menag menegaskan bahwa capaian tersebut harus dimaknai sebagai panggilan moral, bukan sekadar angka statistik. Menurutnya, agama perlu hadir sebagai kompas moral yang membimbing umat dalam menghadapi perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
“Agama tidak boleh berhenti pada simbol dan ritual. Ia harus menjadi penuntun etis—kompas moral—yang memberi arah di tengah disrupsi sosial, teknologi, dan budaya,” tambah Menag.

Rektor UIN Raden Intan Lampung (RIL), Prof. Wan Jamaluddin, Ph.D., yang hadir pada acara tersebut mengungkapkan, pidato kebudayaan yang disampaikan Menag bukan sekedar refleksi, tetapi pengingat khususnya bagi sivitas UIN RIL untuk dapat berdampak ke masyarakat.
“Filosofi mengenai Bhinneka Tunggal Ika dan Moderasi Beragama yang disampaikan Menteri Agama bukan sekedar jargon, namun sebagai landasan kita untuk berfikir, berbuat, dan mengambil peran,” ucap Prof. Wan Jamaluddin.
Refleksi akhir tahun ini juga dihadiri jajaran eselon I dan II Kementerian Agama, para staf khusus dan tenaga ahli Menteri Agama, serta para Rektor PTKN dan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama.