UIN Raden Intan Lampung Matangkan Kesiapan QS World University Rankings by Subject 2027
- Admin Humas
- Kamis, 08 Oktober 2026
- 51 Tampilan

Bandar Lampung (Humas UIN RIL) – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung melalui Pusat Sertifikasi, Akreditasi dan Layanan Internasional (SALI) Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) menggelar Focus Group Discussion (FGD) Persiapan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2027 di Meeting Room 2 lt.1 Gedung Academic & Research Center, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah UIN RIL dalam mempersiapkan keikutsertaan pada pemeringkatan QS WUR by Subject. FGD tersebut membahas metodologi dan indikator QS, pemetaan kekuatan bidang keilmuan, pengelolaan data dan dokumen, serta penyusunan strategi dan rencana aksi yang konkret dan terukur.
Ketua LPM Bambang Irfani, Ph.D., dalam sambutannya menyampaikan, FGD ini menjadi langkah awal universitas untuk memahami strategi dan peluang dalam mengikuti pemeringkatan QS WUR by Subject.
Berdasarkan hasil analisis melalui platform SciVal, Bambang menjelaskan bahwa UIN RIL memiliki kekuatan pada sejumlah bidang keilmuan. Dari beberapa rumpun keilmuan dalam QS World University Rankings by Subject, terdapat tiga subject yang relatif menonjol, yaitu Education & Training pada rumpun Social Sciences & Management, Physics & Astronomy pada rumpun Natural Sciences, serta Theology, Divinity & Religious Studies pada rumpun Arts & Humanities.

“Kita kuat di tiga subject ini. Apakah nanti pimpinan memutuskan akan mengikuti salah satu yang terkuat di Education & Training atau mencoba tiga-tiganya, itu nanti tergantung pimpinan,” jelasnya.
Menurut Bambang, pemetaan tersebut penting dilakukan sebelum universitas menentukan subject yang akan diikuti. Pilihan tersebut perlu mempertimbangkan kekuatan yang dimiliki, peluang pemeringkatan, serta konsekuensi yang harus dipersiapkan oleh universitas.
Ia juga menegaskan bahwa upaya peningkatan kinerja pemeringkatan perlu berjalan beriringan dengan agenda utama universitas dalam mempertahankan akreditasi unggul.
“Kita mudah-mudahan bisa mengikuti semua dengan sebaik-baiknya, tetapi jangan lupa fokus kita ke depan mempertahankan akreditasi unggul,” ujarnya.
Selanjutnya, Wakil Rektor I Prof. Dr. Andi Thahir, M.A., dalam sambutannya menyampaikan, kesiapan mengikuti pemeringkatan QS WUR by Subject tidak hanya berkaitan dengan publikasi, tetapi juga membutuhkan penguatan integrasi data di tingkat universitas.

Menurutnya, berbagai potensi yang dimiliki dosen dan sivitas akademika, termasuk kolaborasi internasional dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, maupun jejaring akademik, perlu dihimpun dan dikelola menjadi data universitas yang terintegrasi.
“Kita harus memiliki data yang kuat, baik jejaring melalui teknologi maupun kolaborasi interpersonal universitas sebagai kekuatan lembaga kita,” ungkapnya.
Prof. Andi menilai penguatan integrasi data menjadi bagian penting dalam mendukung strategi pemeringkatan. Berbagai platform dan sistem informasi yang telah dimiliki universitas perlu dikembangkan dan diintegrasikan sehingga data terkait aktivitas akademik, penelitian, kolaborasi, mahasiswa, alumni, serta capaian lainnya dapat terdokumentasi dengan baik.
Ia juga menyampaikan bahwa FGD tersebut memiliki sejumlah target, di antaranya memahami metodologi dan indikator QS WUR by Subject, memetakan kekuatan dan kelemahan bidang studi, menyusun rencana aksi yang konkret dan terukur, serta membangun komitmen bersama lintas fakultas, lembaga, dan unit kerja.
“Kegiatan ini memiliki target untuk memahami metodologi dan indikator QS WUR by Subject, memetakan secara khusus kekuatan dan kelemahan bidang studi, menyusun strategi rencana aksi yang konkret dan terukur, serta membangun komitmen bersama lintas fakultas, lembaga, dan unit,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, UIN RIL menghadirkan Haipan Salam, M.Si., Ph.D., dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), sebagai narasumber. Ia merupakan Kepala Divisi Pemeringkatan pada Direktorat Penjaminan Mutu dan Pemeringkatan UPI.
Dalam pemaparannya, Haipan menjelaskan perbedaan antara akreditasi dan pemeringkatan perguruan tinggi. Menurutnya, akreditasi lebih menitikberatkan pada pemenuhan standar dan kualitas proses. Sedangkan pemeringkatan lebih melihat kinerja perguruan tinggi berdasarkan indikator tertentu dan membandingkannya secara relatif dengan perguruan tinggi lainnya.

“Pemeringkatan tidak hanya melihat bagaimana kualitas dari proses-proses, tetapi lebih melihat kepada performance atau kinerja. Terutama kinerja ini dilihat secara relatif dan kompetitif,” jelas Haipan.
Ia menjelaskan bahwa QS WUR menggunakan sejumlah indikator yang berkaitan dengan kualitas dan reputasi perguruan tinggi. Aspek kualitas antara lain mencakup kinerja riset, kualitas pembelajaran, internasionalisasi, alumni, dan keberlanjutan. Sementara itu, aspek reputasi dalam pemeringkatan QS antara lain berkaitan dengan Academic Reputation dan Employer Reputation.
Haipan melanjutkan, reputasi menjadi salah satu aspek penting karena pemeringkatan QS tidak hanya membandingkan perguruan tinggi dalam lingkup nasional, tetapi juga dengan perguruan tinggi di tingkat regional dan dunia.
“Yang dilihat adalah bagaimana pengakuan, respect, dan kagum terhadap kualitas akademis yang kita miliki,” ujarnya.
Kemudian Haipan menjelaskan, kesiapan mengikuti QS WUR by Subject juga perlu memperhatikan kelayakan atau eligibility pada masing-masing bidang. Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah jumlah publikasi dalam bidang tertentu selama periode lima tahun terakhir.

Ia mengatakan bahwa setiap bidang memiliki persyaratan yang berbeda. Karena itu, universitas perlu melakukan pemetaan terhadap jumlah publikasi, bidang keilmuan, jumlah fakultas, serta kapasitas penelitian sebelum menentukan subject yang akan diikuti.
“Jadi sebelum masuk ke dalam ranking, perlu diperhatikan terlebih dahulu publikasi minimum yang harus dihasilkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir dan jumlah faculty yang memenuhi kriteria pada bidang tersebut,” paparnya.
Haipan juga menekankan bahwa pemeringkatan tidak semata-mata dipandang sebagai upaya untuk mengejar posisi dalam daftar peringkat. Menurutnya, indikator pemeringkatan dapat dimanfaatkan perguruan tinggi untuk mengetahui kekuatan yang telah dimiliki sekaligus mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.
Dengan demikian, pengelolaan data, penguatan publikasi, peningkatan reputasi akademik, serta pengembangan kolaborasi dapat menjadi bagian dari strategi universitas dalam meningkatkan daya saing di tingkat nasional maupun internasional.

Kegiatan FGD diikuti oleh unsur pimpinan dan pengelola unit terkait, di antaranya perwakilan fakultas, LPM, LP2M, serta gugus penjaminan mutu fakultas maupun prodi. Melalui kegiatan ini, UIN RIL diharapkan dapat menyusun langkah strategis yang lebih terarah dalam mempersiapkan keikutsertaan pada QS WUR by Subject 2027.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan pendalaman materi bersama narasumber untuk mengidentifikasi bidang yang memiliki potensi, kebutuhan penguatan data, serta strategi yang dapat dilakukan universitas dalam meningkatkan daya saing dan reputasi akademiknya di tingkat internasional.
Rep: Magang-Adel (NF)