Irjen Kemenag Lakukan Pembinaan  di UIN Lampung

08 November 2017

Humas UIN RIL – Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Agama (Kemenag) RI Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA sampaikan amanat pembinaan dihadapan para pimpinan dan Aparatur Sipil Negara (ASN) UIN Raden Intan Lampung, Rabu (8/11/2017), di kampus setempat.

 

Pembinaan yang dilakukan pihak Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemenag RI ini sebagai upaya dalam peningkatan kinerja ASN dan meminimalisir masalah pada setiap satuan kerja dalam hal ini di UIN Raden Intan Lampung.

 

Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Dr. Moh. Mukri, M.Ag dalam pengantar pembinaan tersebut menyampaikan bahwa sudah cukup lama menunggu kehadiran pihak Itjen untuk melakukan pembinaan. “Alhamdulillah Bapak Irjen bisa hadir pada kesempatan ini. Saya minta pak Irjen untuk melakukan pembinaan terhadap ASN UIN Raden Intan,” katanya.

 

Menurut Prof. Mukri, Prof. Nur Kholis bukan hanya seorang birokrat dan cendikia tetapi juga seorang ‘alim. “Beliau (Prof. Nur Kholis) bukan hanya bisa bahasa Arab, Inggris, tetapi juga bisa bahasa Jerman. Tidak ketinggalan bahasa Banyumas (Jawa)," kata Rektor dihadapan hadirin yang direspon dengan aplaus dan tawa.

 

Rektor berharap, pembinaan yang dilakukan Irjen dapat dicermati baik-baik oleh pimpinan dan ASN UIN. “Selaku pengawad di internal Kementerian Agama, tentunya hal ini sebagai pembelajaran kita semua agar tidak melakukan kesalahan. Atau meminimalisir kesalahan,” ujarnya.

 

Rektor mencontohkan Lembaga Pemasyarakatan (LP) di Indonesia sudah overload penghuninya. Sedangkan di Belanda hampir LP semua kosong. “Maka sekarang bagaimana caranya kita tidak banyak salah. Orang salah itu banyak fakto, bisa karena salah gaul, kurang pembinaan, atau kurang bimbingan. Anggaran Negara kita cukup terkuras hanya untuk proses hukum,” pungkasnya.

 

Itjen Kemenag RI memiliki tugas dan fungsi (tusi) pokok sesuai Peraturan Menteri Agama RI 10 Tahun 2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama dengan tugas utama yaitu melaksanakan pengawasan internal di lingkungan Kementerian Agama.

 

Sedangkan Itjen Kemenag 5 fungsi diantaranya yakni pertama, penyiapan perumusan kebijakan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Agama. Kedua, pelaksanaan pengawasan intern di lingkungan Kementerian Agama terhadap kinerja dan keuangan melalui audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lainnya.

 

Ketiga, pelaksanaan pengawasan untuk tujuan tertentu atas penugasan Menteri Agama. Keempat, penyusunan laporan hasil pengawasan di lingkungan Kementerian Agama. Dan kelima, pelaksanaan administrasi Inspektorat Jenderal.

 

Di awal pemaparan, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA merujuk salah satu kitab yakni kutipan dalam mukadimah Kitab Fathul Mu'in. Pengarang kitab tersebut Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari menjelaskan kurang lebih, “Ketahuilah para pembaca bahwa yang saya tulis didalam Syarah ini tidak ada sesuatu yang baru. Melainkan hanya menukil ulama-ulama terdahulu sebelum saya. Akan tetapi ada juga sesuatu yang baru sebagai pembaharuan.”

 

Begitulah landasan filosofis Irjen dalam membangun sebuah lembaga. Dalam konteks kekinian, Nur Kholis menerjemahkan kontinuitas sesuatu yang baik, yang telah dibangun pendahulu. Di samping itu, juga diperlukan inovasi sebagai pembaharuan untuk perubahan.

 

“Sesuatu yang baik tidak boleh berhenti, harus berkesinambungan. Kebijakan dan langkah yang bermanfaat yang telah dilakukan pimpinan sebelumnya harus dilanjutkan. Sebagai penyeimbang diperlukan juga inovasi,” ungkapnya.

 

Irjen mengingatkan untuk bertekad dalam meningkatkan kinerja agar lebih baik. Ia juga berpesan ketika ada masalah di internal jangan langsung gaduh ke pihak luar, tetapi diselesaikan terlebih dahulu di internal.

 

Kemudian, Irjen menyampaikan paradigma baru dalam menjalankan suatu lembaga. “Masing-masing kita sebagai pimpinan maupun pegawai tidak cukup hanya benar. Ada sisi lain yang harus dipertimbangkan yaitu sisi kebaikan. Jadi kebenaran dan kebaikan harus seirama,” tukasnya.

 

Nur Kholis menjelaskan, selain pengawasan, semua auditor wajib hukumnya melakukan pembinaan dan pendampingan, bukan mencari-cari kesalahan. Kehadiran Irjen tersebut dapat dikatakan menjadi pengayom agar Kemenag terus mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP) dari BPK.

 

Saat ini Itjen Kemenag RI fokus pada tiga aktivitas. Pertama, mereview kegiatan dan program kerja khususnya ke satker yang tergolong besar seperti PTKIN dan Kantor Wilayah Kemenag. Hal tersebut untuk melihat dan meminimalisir potensi pelanggaran yang kadang luput dari pimpinan.

 

Kedua, pendampingan penyusunan laporan keuangan. Biasanya kegiatan ini dilakukan menjelang akhir tahun anggaran. Penyususan laporan harus sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku.

 

Ketiga yakni audit kinerja, audit operasional, dan audit investigasi. Audit kinerja dilakukan antara Januari – November untuk menghimpun indeks kinerja. Audit operasional untuk memilih dan memilah satker yang memiliki tusi agama dan tusi pendidikan.

 

Kemudian audit investigasi. Audit ini diselenggarakan berdasarkan temuan BPK maupun laporan dari berbagai macam kalangan dan berbagai soal. Investigasi ini juga melihat skala prioritas yang harus segera ditindaklanjuti.

 

Dalam membangun dan mengembangkan lembaga, Irjen berpesan untuk  mengubur egosentris dan ego-sektoral. Baginya, keberhasilan suatu satker adalah keberhasilan tim, keberhasilan bersama.

 

Saat ini, Itjen Kemenag RI telah bekerjasama (MoU) dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK dapat menindaklanjuti jika ada temuan dengan nominal tertentu yang ada dalam MoU dan sesuai peraturan dan perundangan. Tetapi jika ada laporan masyarakat ke KPK tetapi nominalnya tidak sesuai dengan MoU, persoalan akan ditangani oleh Itjen atau pihak terkait. (NF/HI)