Hubungan Sejarah Antara Islam dan Rusia Jadi Bahasan Visiting Lecture FDIK

  • Admin Humas
  • Sabtu, 06 Juli 2024
  • 29 Tampilan
blank

Bandar Lampung (Humas UIN RIL) – Prof Irina R Katkova PhD, seorang dosen dari St Petersburg State University Rusia memaparkan hubungan sejarah antara Islam dan Rusia pada acara Visiting Lecture yang diadakan oleh Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), di Aula setempat, Rabu (03/07/2024).

Acara yang diinisiasi oleh Prodi Manajemen Dakwah (MD) ini dibuka oleh Wakil Dekan I FDIK Dr Mubasit SAg MM. Hadir Ketua Prodi MD Yunidar Cut Mutia Yanti MSosI, Sekretaris Prodi Badarudin MAg, serta para dosen dari seluruh prodi di lingkungan FDIK.

Dari pemaparan Prof Irina, ia membahas hubungan sejarah antara Islam dan Rusia, yang dimulai sejak awal sejarah Rusia. 

Wilayah Rusia memiliki posisi geografis yang penting di antara Asia dan Eropa, memfasilitasi kontak dan interaksi antara umat Islam dan Kristen. Sejumlah besar penduduk Muslim seperti Tatar, Krimea, dan suku-suku di Kaukasus dan Asia Tengah telah mendiami wilayah ini selama berabad-abad.

Prof Irina merupakan lulusan Oriental Universitas Negeri St Petersburg bidang sejarah yang tertarik dengan penelitian manuscript terkhusus pada aspek keagamaan islam dan tasawuf.

Prof Irina menyampaikan, Sejarah Islam di Rusia tidak hanya berfokus pada konflik dan penaklukan, tetapi juga menyoroti periode harmoni dan kerja sama antara umat Islam dan Kristen. Contoh awalnya adalah masa pemerintahan Catherine yang Agung, yang mendorong toleransi dan akomodasi antaragama.

Islam pertama kali memasuki wilayah Rusia modern pada awal abad ke-7, ungkapnya, melalui penaklukan Arab di Kaukasus Utara. Selanjutnya, perdagangan dan hubungan ekonomi dengan dunia Muslim membantu Islam mengakar di sepanjang lembah Volga.

Pada abad ke-8, Kerajaan Bulghar di Volga Tengah menjadi negara Muslim merdeka pertama di wilayah tersebut. Era Gerombolan Emas pada abad ke-13 membawa lebih banyak khanat Islam independen seperti Kazan, Krimea, Siberia, dan lainnya.

Pada abad ke-16, keadaan berubah dengan kedatangan bangsa Rusia yang menginvasi dan menggabungkan wilayah-wilayah berpenduduk Muslim seperti Kazan dan Astrakhan ke dalam Kekaisaran Rusia. Ini disusul dengan penaklukan Siberia, Kaukasus, dan Asia Tengah oleh Rusia selama beberapa abad berikutnya.

Pada abad ke-18, Catherine yang Agung memberikan dorongan besar terhadap kehidupan budaya Islam di Rusia dengan mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah di kota-kota seperti Kazan dan Ufa. Dia juga mempromosikan studi Islam dan menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Rusia, yang membuka pintu bagi kajian akademis yang mendalam di bidang ini.

Periode Soviet membawa tantangan baru bagi umat Islam di Rusia dengan kebijakan anti-agama yang mengganggu kehidupan sosial dan budaya mereka. 

Namun, setelah runtuhnya Uni Soviet, kebebasan beragama yang baru memberikan ruang bagi kebangkitan kehidupan Islam di Rusia modern. Populasi Muslim di Rusia saat ini merupakan minoritas terbesar di Eropa dengan sekitar 13-15% dari total populasi. Mereka terdiri dari lebih dari 40 kelompok etnis yang menganut berbagai madzhab Islam, baik Hanafi maupun Syafi’i.

Secara akademis, studi Al-Qur’an telah menjadi bagian penting dari kehidupan politik dan akademis di Rusia sejak abad pertengahan, dengan banyak terjemahan dan penelitian yang dilakukan untuk memahami dan menghargai warisan budaya Islam.

blank

Kajian Orientalisme di Rusia, terutama di St. Petersburg, telah mengumpulkan salah satu koleksi manuskrip Al-Qur’an terbesar di Eropa, menunjukkan minat yang mendalam dalam pemahaman dan penghormatan terhadap warisan intelektual dan budaya Islam.

Irina mengilustrasikan perjalanan Islam di Rusia sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dan identitas negara tersebut, menyoroti kompleksitas hubungan antaragama dan kekayaan budaya yang telah berkembang selama berabad abad. (Rls-An/AH)