Intellectuality, Spirituality, Integrity

International Talkshow RISS 2026, Dorong Mahasiswa Jadi Warga Global Tanpa Kehilangan Jati Diri 

  • Admin Humas
  • Rabu, 26 Agustus 2026
  • 838 Tampilan

Bandar Lampung (Humas UIN RIL) — Berada di lingkungan dengan budaya yang berbeda tidak selalu berarti harus meninggalkan identitas diri. Justru, kemampuan memahami perbedaan, berkomunikasi, dan membangun hubungan dengan orang lain menjadi bagian penting dalam membentuk warga global.

Pesan tersebut mengemuka dalam International Talkshow Raden Intan Seasonal School (RISS) 2026 di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), Rabu (26/8/2026).

Mengusung tema “Building Bridges Through Culture, Service, and Global Citizenship”, talkshow menghadirkan Shunsuke Sakakibara, M.A., international volunteer dan jurnalis asal Jepang, serta Fatemah Madid, Ph.D., peneliti di Queen’s University Belfast, Inggris. Sesi yang diadakan secara hybrid itu dipandu Istiqomah Nur Rahmawati, M.Pd.

Fatemah mengangkat pengalaman belajar dan membangun kehidupan di luar negeri melalui materi “Beyond Surviving: How Studying Abroad Taught Me to Belong Without Losing Myself.” Ia membagikan pengalaman menghadapi tantangan sebagai mahasiswa internasional sekaligus ibu, guru, dan peneliti.

Menurutnya, beradaptasi dengan lingkungan baru bukan berarti menghapus identitas dan budaya asal. Sebaliknya, identitas tersebut dapat menjadi bagian dari proses membangun hubungan dengan masyarakat di tempat baru.

Ia mendorong mahasiswa internasional untuk berani bertanya sebelum berasumsi, aktif berkomunikasi, membangun jejaring dukungan, serta memperkenalkan budaya asal kepada lingkungan sekitar.

“Belonging” dalam konteks tersebut, kata Fatemah, bukan tentang menjadi sama dengan lingkungan baru, tetapi menemukan ruang untuk menjadi bagian dari komunitas tanpa kehilangan jati diri.

Sementara itu, Shunsuke Sakakibara membawa perspektif dari pengalamannya sebagai relawan di Sekolah Pesisir, Makassar, pada 2012. Saat itu, ia mengajarkan bahasa Jepang, Mandarin, dan Spanyol sekaligus memperkenalkan budaya dari berbagai negara.

Pengalaman tersebut membuatnya melihat pentingnya memahami konteks budaya sebelum memberikan penilaian terhadap kebiasaan atau perilaku orang lain.

Sesuatu yang dianggap biasa atau ‘normal’ dalam satu budaya, menurut Shunsuke, belum tentu dipandang dengan cara yang sama dalam budaya lain. Karena itu, keterbukaan untuk memahami menjadi modal penting ketika seseorang berinteraksi dengan masyarakat dari latar belakang berbeda.

Pengalaman Shunsuke dan Fatemah memperlihatkan bahwa mobilitas internasional bukan hanya tentang berpindah tempat untuk belajar. Lebih dari itu, pengalaman tersebut menjadi proses untuk memahami perbedaan, mengenali diri sendiri, dan membangun hubungan dengan masyarakat lintas budaya.

Sesi talkshow berlangsung interaktif. Peserta yang hadir langsung maupun mengikuti kegiatan melalui Zoom terlibat dalam diskusi mengenai perbedaan kebiasaan antarnegara, pengalaman beradaptasi di lingkungan baru, hingga cara membangun rasa memiliki ketika berada di negara lain.

Program yang digagas Pusat Sertifikasi, Akreditasi, dan Layanan Internasional (SALI) Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN RIL tersebut mempertemukan peserta dari Indonesia, Sudan, Nigeria, Thailand, dan Yaman dalam rangkaian pembelajaran lintas budaya selama empat hari. (An/NF)