Intellectuality, Spirituality, Integrity

Kuliah Umum FEBI: Kemenkraf Tekankan Budaya Lokal Bisa Jadi Sumber Nilai Ekonomi Kreatif

  • Admin Humas
  • Selasa, 29 September 2026
  • 21 Tampilan

Bandar Lampung (Humas UIN RIL) – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenkraf) mendorong pemanfaatan budaya lokal sebagai sumber ide, identitas, dan nilai ekonomi dalam pengembangan ekonomi kreatif di era digital. Budaya dapat dikembangkan menjadi produk kreatif melalui kreativitas, inovasi, desain, teknologi, dan storytelling.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif, Amir Hamzah, S.E., M.M., dalam Kuliah Umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL), Selasa (29/9/2026), di Ballroom Gedung Academic & Research Center UIN RIL.

Kuliah umum tersebut mengangkat tema “Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya: Menguatkan Identitas Lokal melalui Kewirausahaan di Era Digital”.

Amir menjelaskan, budaya dapat menjadi pembeda dalam pengembangan ekonomi kreatif. 

“Budaya memberikan diferensiasi ketika kreativitas bertemu dengan budaya. Kita punya sumber budaya di Lampung, seperti tapis dan pohon pucuk rebung. Ini bisa diolah menjadi budaya baru melalui reinterpretasi, desain, inovasi teknologi, dan storytelling,” ujar Amir.

Ia mengatakan, pengembangan potensi budaya perlu melihat kebutuhan dan perkembangan pasar. Kreativitas menjadi bagian penting dalam proses tersebut karena membantu pelaku usaha meningkatkan dan mengembangkan produk agar mampu menjangkau konsumen.

Selain kreativitas, identitas lokal juga menjadi bagian penting dalam pengembangan produk kreatif. Kekayaan budaya daerah dapat menjadi keunggulan kompetitif ketika dikembangkan dengan pendekatan kreatif dan didukung pemanfaatan teknologi digital.

“Ketika kita memiliki identitas lokal sebagai competitive advantage, kita bisa mengembangkan kekayaan budaya yang kita punya menjadi sesuatu yang bernilai. Dengan teknologi digital, produk-produk kreatif lokal dapat diperkenalkan dan menjangkau pasar yang lebih luas,” jelasnya.

Menurut Amir, teknologi digital dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan sekaligus mempromosikan produk kreatif. Perangkat yang digunakan sehari-hari membuka peluang bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas jangkauan pasar tanpa terbatas pada wilayah tertentu.

Pengembangan ekonomi kreatif, lanjutnya, juga membutuhkan ekosistem yang saling mendukung. Pemerintah, akademisi, pelaku usaha, lembaga keuangan, komunitas, dan media memiliki peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif melalui kolaborasi.

Amir menekankan bahwa pengembangan produk kreatif tidak berlangsung secara instan. Produk yang awalnya dikembangkan dalam skala kecil dapat terus bertumbuh melalui proses pendampingan, pengembangan, dan perluasan pasar hingga mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

“Kesuksesan itu dimulai dari nol dan membutuhkan proses. Produk yang dikembangkan harus terus melalui proses, sehingga dari produk lokal dapat berkembang dan mampu mencapai pasar yang lebih luas,” pungkasnya.

Rep: Magang-Eca (An/NF)