Masjid Istiqlal dan Jalan Panjang Menuju Perdamaian Dunia
- Admin Humas
- Jumat, 25 September 2026
- 48 Tampilan

Oleh
Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., Ph.D
Rektor UIN Raden Intan Lampung
Apa yang dapat dilakukan sebuah masjid ketika dunia menyaksikan penderitaan manusia, perang, dan kerusakan lingkungan? Pertanyaan ini mengemuka ketika Indonesia menjadi tuan rumah International Grand Imams Conference (IGIC) 2026. Pertemuan para imam besar di Jakarta tersebut membuka kesempatan untuk menegaskan peran masjid sebagai sumber kekuatan moral: membela martabat manusia, merawat kepedulian terhadap bumi, dan mengajak semua pihak menempuh jalan damai. Kita tentu menyambut baik ikhtiar ini. Di tengah kekerasan dan prasangka yang mudah memecah belah, para imam perlu bertemu, saling mendengar, dan membawa pulang pesan kemanusiaan yang jernih kepada jamaahnya.
Sejarah masjid di Nusantara membantu kita memahami mengapa pertemuan ini mempunyai dasar yang kuat. Masjid tumbuh bersama kehidupan masyarakat. Orang datang untuk salat, belajar, bermusyawarah, meminta nasihat, dan mencari pertolongan. Imam mengenal jamaahnya sebagai manusia dengan persoalan yang nyata. Kedekatan itu membuat nasihat agama memiliki tempat dalam kehidupan sehari-hari. Warisan tersebut patut dibaca sebagai sumber inspirasi, bukan sekadar kenangan tentang masa lalu. Masyarakat kini menghadapi persoalan yang berbeda: arus kabar yang sering mengadu domba, kesenjangan sosial, kerusakan lingkungan, hingga perang yang dampaknya terasa melintasi batas negara. Seorang imam tidak mungkin menyelesaikan semuanya sendirian. Akan tetapi, ia dapat menolong jamaah melihat persoalan dengan hati yang terbuka dan akal yang jernih. Ia dapat mengingatkan bahwa perbedaan tidak memberi alasan untuk merendahkan orang lain, dan bahwa kesalehan juga menuntut kepedulian kepada yang lemah.
Dalam salat berjamaah, imam berdiri paling depan, tetapi keberadaan jamaahlah yang menjadikan kepemimpinannya bermakna. Ada pelajaran penting di sana. Kepemimpinan keagamaan bertumbuh melalui kepercayaan, keteladanan, dan kesediaan untuk memikul tanggung jawab bersama. Karena itu, ketika para imam berkumpul dalam IGIC, yang bertemu sesungguhnya bukan hanya para pemimpin ibadah. Mereka membawa pengalaman dan harapan masyarakat yang mereka layani.

Palestina Menguji Makna Solidaritas
Perhatian IGIC terhadap isu Palestina memberi konferensi ini pijakan moral yang mendesak. Bagi kita, penderitaan warga sipil Palestina adalah panggilan kemanusiaan. Di hadapan orang yang kehilangan rasa aman, tempat tinggal, dan orang-orang tercinta, bahasa perdamaian harus menunjukkan kepedulian yang nyata. Kita berdoa agar kekerasan berakhir. Pada saat yang sama, doa menggerakkan kita untuk mendukung bantuan kemanusiaan, melindungi warga sipil, dan terus menyuarakan hak-hak bangsa Palestina. Perdamaian yang adil memerlukan keberanian untuk mengakui penderitaan serta ketekunan untuk mencari jalan yang memungkinkan manusia hidup dengan martabatnya.
Para imam mempunyai peran penting dalam menjaga kejernihan sikap itu. Mimbar dapat menumbuhkan empati dan menguatkan komitmen untuk menolong. Mimbar juga dapat mengajarkan umat menyampaikan kemarahan atas ketidakadilan tanpa kehilangan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan cara demikian, solidaritas untuk Palestina menjadi tindakan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Kita tentu memberi apresiasi yang tinggi kepada Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A., Menteri Agama Republik Indonesia sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, atas upaya-upaya yang beliau lakukan untuk memperkuat dialog dan perdamaian. Apresiasi ini bertumpu pada langkah yang dapat kita lihat. Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, beliau menandatangani Deklarasi Istiqlal bersama Paus Fransiskus pada September 2024. Deklarasi itu mengangkat persoalan kemanusiaan dan kelestarian lingkungan sebagai tanggung jawab bersama. Ikhtiar dialog tersebut kemudian beliau lanjutkan dalam pertemuan internasional untuk perdamaian di Vatikan, termasuk pembicaraan mengenai tindak lanjut Deklarasi Istiqlal. Rangkaian langkah ini menunjukkan kesungguhan untuk menjaga agar perjumpaan antaragama menghasilkan kerja bersama.

IGIC 2026 memberi kesempatan untuk memperluas kerja itu melalui jejaring para imam. Gagasan ini memiliki daya jangkau yang khas. Perundingan antarnegara berlangsung pada ranah diplomasi; para imam dapat menanamkan nilai damai dalam percakapan sehari-hari umat. Kata-kata yang disampaikan dengan arif dari satu mimbar mungkin tidak segera mengubah keadaan dunia. Namun, ketika banyak mimbar membangun penghormatan, menolak kebencian, dan menggerakkan pertolongan, terbentuklah kekuatan moral yang tidak kecil. Kita berharap konferensi ini melahirkan hubungan yang terus terpelihara. Para imam dapat berbagi cara meredakan ketegangan, mendidik generasi muda, dan mengorganisasi bantuan kemanusiaan. Pertemuan di Jakarta akan memberi sumbangan besar apabila gagasannya menemukan jalan menuju jamaah dan masyarakat.
Merawat Manusia, Merawat Bumi
Perhatian pada perdamaian juga membawa kita kepada pertanyaan tentang bumi yang kita huni bersama. Ketika lingkungan rusak, mereka yang paling sedikit memiliki sumber daya kerap menanggung akibat paling berat. Air yang berkurang, ruang hidup yang menyempit, dan bencana yang berulang dapat memperdalam kesulitan keluarga serta memicu perselisihan. Karena itu, kepedulian ekologis mempunyai hubungan erat dengan upaya menjaga martabat manusia. Pesan dari Istiqlal tentang bumi dan perdamaian mengajak kita memperluas cakrawala pengabdian masjid. Penghematan air, pengelolaan sampah, penghijauan, dan pendidikan lingkungan dapat tumbuh dari kebiasaan jamaah. Masjid mampu mengajarkan hal-hal itu melalui teladan yang terlihat setiap hari. Ketika kepedulian menjadi kebiasaan bersama, ajaran tentang amanah dan tanggung jawab memperoleh bentuk yang dapat dirasakan masyarakat.
Perguruan tinggi keagamaan Islam perlu menjadi bagian dari ikhtiar tersebut. Kampus mempunyai ruang untuk mengkaji akar konflik, mengembangkan pendidikan yang menghargai perbedaan, dan mendampingi masyarakat. Mahasiswa perlu belajar membaca persoalan dunia dengan teliti sekaligus menjaga kepekaan terhadap penderitaan manusia. Pengetahuan yang tinggi semestinya membuat seseorang semakin cermat dalam menilai persoalan dan semakin bersedia bekerja bagi kebaikan bersama. Sebagai Rektor UIN Raden Intan Lampung, saya melihat IGIC 2026 sebagai dorongan untuk mempererat hubungan antara kampus, masjid, dan masyarakat. Para akademisi dapat membantu menyiapkan bahan pendidikan yang mudah digunakan imam dan jamaah. Sedangkan pengalaman para imam di tengah masyarakat dapat menjaga agar kajian kampus tetap berpijak pada kehidupan nyata. Kerja sama seperti ini membuka ruang bagi ilmu untuk hadir sebagai pelayanan.

Dari masjid-masjid Nusantara hingga Masjid Istiqlal, kita mewarisi keyakinan bahwa iman mempunyai daya untuk menggerakkan kebaikan. IGIC 2026 adalah kesempatan untuk menyampaikan keyakinan itu kepada dunia melalui sikap dan kerja bersama. Kita mendukung langkah Prof Nasaruddin Umar dan semua pihak yang mengusahakannya. Semoga dari Jakarta tumbuh jejaring para imam yang tekun membela kemanusiaan, merawat bumi, dan membuka jalan menuju perdamaian yang adil.*