Peduli Disabilitas, Mahasiswa UIN Jadi Penerjemah Bahasa Isyarat

  • Admin Humas
  • Jumat, 17 April 2020
  • 3158 Tampilan
Akbar Repanji (Kanan) saat menerjemahkan informasi terkait Covid-19. (Dok. Ist)

“Setelah saya bertemu dengan komunitas tuli, saya banyak mengetahui keluh kesah mereka. Salah satunya adalah akses informasi yang tidak diberikan. Sehingga itu memperkuat saya untuk mempelajari lebih mendalam tentang bahasa isyarat dan membantu akses yang mereka butuhkan,” ungkap Repanji.

Akbar Repanji, nama lengkapnya, merupakan salah satu mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Intan Lampung semester 4.

Selain peduli, dia mengaku tertarik belajar bahasa isyarat karena menurutnya unik. “Kita tak perlu mengeluarkan suara dan media untuk berkomunikasi. Sehingga dalam berkomunikasi tidak membuat kebisingan,” ujarnya kepada Tim Humas UIN, Jumat (17/4/2020).

Saat ini, Repanji menjadi Juru Bahasa Isyarat (JBI) Pemerintah Provinsi Lampung untuk sosialisasi pencegahan dan informasi mengenai wabah Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) bagi orang-orang tuli. Dia ditunjuk sebagai JBI, karena sebelumnya Repanji bersama dengan komunitas tuli mengadvokasi pemerintah untuk memberikan akses informasi terkait Covid-19.

Pria kelahiran 24 Maret 2000 ini juga menyampaikan, pernah beberapa kali menjadi JBI pemerintah dan lembaga negara di tingkat provinsi. “Pernah menjadi penerjemah isyarat dalam acara Hari Disabilitas Internasional 2018 yang diadakan Dinas Sosial Provinsi Lampung. Pernah jadi penerjemah workshop disabilitas di Pringsewu dan dibeberapa acara seperti sosialisasi KPU,” ujarnya.

Repanji juga sering membantu orang-orang tuli yang membutuhkan penerjemah bahasa isyarat dalam banyak hal. “Jadi dari DPD GERKATIN (Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia) Lampung meminta bantuan saya untuk menerjemahkan di agenda yang berkaitan dengan (orang) tuli,” jelasnya.

Untuk memiliki kemampuan bahasa isyarat, dirinya mengaku belajar secara otodidak. “Untuk kursus (bahasa isyarat) di Lampung belum ada. Saya berawal belajar dari YouTube secara otodidak, kemudian bertemu langsung dengan teman tuli dan belajar secara langsung dengan teman tuli,” tambah pria asal Jati Agung, Lampung Selatan.

Mahasiswa yang bercita-cita menjadi guru dan JBI Nasional ini berharap di Lampung banyak JBI serta pemerintah memberikan beragam akses kepada semua orang penyandang disabilitas. (NF/HI)