Home » Berita » Pemahaman Narkoba dan Radikalisme Juga Disampaikan di PBAK

Pemahaman Narkoba dan Radikalisme Juga Disampaikan di PBAK

Sudah dibaca : 4991 Kali


AKBP Darwan Gumay, SH, MH sampaikan materi tentang bahaya narkoba di PBAK 2019.

Hari pertama Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2019, Senin (5/8), selain materi tentang wawasan kebangsaan, peserta PBAK juga diberikan materi tentang bahaya narkoba, wawasan keislaman, dan anti radikalisme (agama).

Materi bahaya narkoba disampaikan oleh AKBP Darwan Gumay SH MH dari Badan Narkotika Nasional (BNN) provinsi Lampung. Menurutnya, bahaya narkoba yang bisa merusak generasi masa depan. “Narkoba juga membuat 50 orang di Indonesia mati sia-sia setiap harinya,” kata Gumay.

“Negara sudah dijajah oleh narkoba, dan BNN mengajakseluruh masyarakat berpartisipasi menghindari narkoba, dengan cara tidakmencoba-coba narkoba. Dan jika ada pelanggaran segera melaporkan ke pihakberwajib,” lanjutnya.

Riski, salah satu peserta PBAK dari Fakultas Syariah (FS)mengutarakan bahwa materi ini sangat bermanfaat. “Kami orang awam, ditakutkanbisa kelabuhi oleh para pengedar, sehingga kita bisa terjerat bahaya narkoba,”ujarnya.

Selain itu, wawasan keislaman dan anti radikalisme merupakanmateri terakhir di kegiatan PBAK  haripertama. Materi ini disampaikan oleh Kepala Badan Nasional PenanggulanganTerorisme (BNPT) Provinsi Lampung Dr Abdul Syukur MAg.

Radikalisme merupakan suatu  kegiatan yangmengatasnamakan agama dan dapat menghancuran kerukunan bangsa. “Kita tidakmengenal radikalisme dan terorisme, karena Islam merupakan agama yang rahmatan lil alamin. Dalam kehidupanberbangsa pun kita menerima pancasila, menerima NKRI, menerima Undang-UndangDasar 1945, menerima produk-produk hukum yang berlaku,” papar Abdul Syukuryang juga sebagai Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK)UIN.

Dia juga menjelaskan, ada lima ciri pengikut dalam halradikal agama. “Pertama, hati dan fikiranya sempit. Kedua, tidak mau membukadiri pada orang lain. Ketiga, pandangan, sikap, dan pemikiran yang melampauibatas. Keempat, mempunyai fikiran dan sikap yang keras. Dan kelima, merekamempunyai pandangan untuk memperbolehkan atau menghalalkan melakukan kekerasanuntuk mencapai tujuan mereka,” terangnya.

Abdul Syukur juga mengungkapkan, “siapapun yang terlibatdalam menyebarkan paham radikal dan beraksi dalam tindakan radikal terorisme,kalau mereka menyerahkan diri nanti akan dibina dan jika mereka melakukanperlawanan maka akan ada penindakan.”

Dia berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk mencegah gerakankontra radikalisme atau pencegahan dini. “Supaya mahasiswa UIN Raden Intantidak terpapar paham radikalisme,” tandasnya.

Reporter : Rini/Shinta Renika

Editor: NF/HI