Home » Berita » Prodi SPI Bedah Buku Roman Sejarah

Prodi SPI Bedah Buku Roman Sejarah

Sudah dibaca : 369 Kali


Tangkapan layar bedah buku Prodi SPI.

Program Studi (Prodi) Sejarah Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab (FA) UIN Raden Intan Lampung menggelar bedah buku yang berjudul “Momi Kyoosyutu: Perlawanan Petani Indramayu Masa Penjajahan Jepang” karya Dr Wahyu Iryana. Bedah buku berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (10/3/2021).

Kegiatan ini dibuka oleh Wakil Dekan (WD) I FA Dr Nadirsyah Hawari. Dalam sambutannya, dia menjelaskan bahwa pimpinan fakultas akan terus mendukung kegiatan yang berbasis pada pengetahuan dan keilmuan. WD I ini berharap kegiatan seperti ini dapat berlangsung secara konsisten.

Ketua Prodi SPI Dra Siti Masyukuroh MSosI menyampaikan bahwa bedah buku ini sebagai salah satu upaya dalam membangun budaya literasi khususnya dikalangan mahasiswa. Meski Prodi SPI terbilang baru, dia meyakini, dengan adanya potensi para pengajar SPI dan dukungan dari banyak pihak, Prodi SPI akan berkembang dengan cepat.

Bedah buku ini langsung dipaparkan oleh penulisnya, yang juga merupakan dosen SPI UIN Raden Intan Lampung. Hadir sebagai pembahas dan pembanding yaitu Dr Abd Rahman Hamid (Ahli Sejarah Maritim/Dosen SPI UIN Raden Intan Lampung) dan Tolib Rohmatillah MA (Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung).

Wahyu memaparkan, karyanya ini ditulis berbentuk roman sejarah. “Ini merupakan peristiwa sejarah yang benar terjadi dan ditulis dalam alur roman sejarah agar mudah dicerna oleh pembaca pemula khususnya para pelajar dan mahasiswa,” ungkapnya.

Bukunya ini mengambil setting waktu pada zaman penjajahan Jepang 1942-1945 yang berlokasi di wilayah Pantura, Jawa Barat.

Sementara itu, Hamid mengulas bahwa buku roman sejarah ini layak diapresiasi karena penelitian sejarah jarang ditulis dalam bentuk roman. “Implementasi dari buku serius ke dalam bentuk roman itu sangat susah dilakukan. Saya merasakan betul karena saya juga seorang penulis,” kata penulis buku Sejarah Maritim Indonesia ini.

Sedangkan pembanding kedua Tolib mengatakan, petani dan padi adalah simbol sang sakral dalam karya ini. “Ini masuk dalam kategori karya creatific non-fiction karena peristiwanya benar terjadi, tapi ditulis dalam bentuk cerita Roman Sejarah.” ujarnya.

Kegiatan ini diikuti juga diikuti oleh para akademisi, sejarawan, mahasiswa, dan pelajar dari berbagai kampus/sekolah diantaranya UIN Raden Intan Lampung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas Padjajaran, MAN 1 Bandar Lampung, serta lembaga lainnya. (Way/NF/HI)