Spiritualitas Haji dan Keteladanan Ibrahim Masa Kini

  • Admin Humas
  • Kamis, 29 Juni 2023
  • 1408 Tampilan

oleh Prof. H. Wan Jamaluddin Z, Ph.D Rektor UIN Raden Intan Lampung

Jutaan umat Islam saat ini sedang menunaikan serangkaian ibadah haji di tanah suci. Dengan penuh semangat yang mengharu biru semuanya berharap menjadi haji yang mabrur. Pada musim haji tahun ini, setidaknya ada 221 ribu umat Islam Indonesia yang menunaikan rukun Islam yang ke lima. Ibadah haji merupakan ibadah wajib yang istimewa karena menggabungkan finansial dan fisik. Oleh karena itu, seluruh umat Islam yang melaksanakan ibadah ini ingin meraih haji mabrur.

Dari sisi bahasa, al mabrur adalah isim maf’ul dari akar kata al birru. Al birru itu artinya kebaikan atau kebajikan. Dengan demikian, al hajjul mabruru artinya haji yang diberikan kebaikan dan kebajikan. Dari sisi istilah, haji mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah, kemudian berdampak pada kebaikan diri, serta bermanfaat bagi orang lain dan tentunya terjadi perubahan ke arah yang lebih baik usai pulang dari tanah suci. Karena kemabruran dapat dilihat dari aktivitas seseorang setelah melaksanakan ibadah haji yakni terpancar kebaikan dan keistikomahan saat di tanah air.

Ibadah haji adalah wisata suci yang mendorong jamaah menjauh dari ketergantungan dengan dunia dan segala isinya yang begitu fana. Haji merupakan perjalanan spiritual dan merupakan ibadah yang memerlukan sikap tawadhu dan melepaskan diri dari berbagai kesenangan materi untuk bersimpuh di hadapan keagungan Allah SWT.  Berseragam putih-putih ketika ihram untuk mengingatkan kain kafan yang akan membalutnya saat kematian. Mereka menunaikan manasik yang sama di tempat yang sama, mengumandangkan talbiyah yang sama, wukuf di Arafah, thawaf, mabit, dan melempar jumrah.

Dimensi spiritualitas haji perlu kita pahami sebagai makna batin, makna yang terkandung dalam hikmah Ibadah haji. Umat Islam juga perlu mengingat kembali perjuangan Nabi Ibrahim yang layak diteladani. Keluarga Nabi Ibrahim adalah keluarga ideal yang layak kita contoh. Saat dia sebagai anak, dia mengajak ayahnya yang merupakan pembuat berhala untuk beriman kepada Alllah. Ya, Abati, Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolongmu?.”

Tapi, ayahnya yang bernama Azhar malah marah dan memukul Ibrahim. Tapi, marahkah Ibrahim? Ibrahim justru menjawab. Salamun alaika, keselamatan untukmu wahai ayahku, aku akan mintakan ampun kepada Allah. Oleh sebab itu para jamaah, sekasar apapun orang tua kita, sejahat apapun dia, kita tidak berhak berkata kasar kepadanya. Tetaplah menyayanginya, tetaplah menjalin silaturahim.

Nabi Ibrahim lulus terhadap ujian orang tua, ujian selanjutnya adalah rumah tangga atau istri. Nabi Ibrahim lama menikah dengan Siti Sarah, kemudian menikah lagi dengan Siti Hajar. Tetap Ibrahim tidak dikaruniai anak, Nabi Ibrahim berdoa siang dan malam, bahkan doanya diabadikan dalam Alquran.  Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku anak yang soleh.

Maka, ujian pernikahan ingin mendapatkan anak, lama tidak punya anak, 86 tahun lamanya, barulah Allah takdirkan lahir anak bernama Ismail. Sekarang diuji dengan anak, anak yang ditunggu selama 86 tahun, tapi kemudian diminta Allah.

Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelihnya, Ibrahim berkata wahai anakku, aku lihat dalam mimpiku aku menyembelihmu. Apa pendapatmu wahai anakku? Lalu Ismail menjawab, wahai ayahku, laksanakan apa yang diperintahkan Allah. Insyaallah aku termasuk orang-orang yang sabar.

Ibrahim adalah model manusia yang diberikan Allah ujian, diuji ayah lulus, diuji anak lulus dan diuji istri lulus. Maka, yang menjadi pertanyaan besar adalah, jika hari ini kita diuji anak, luluskah kita? ini pertanyaan penting. Banyak umat Islam hari ini diuji dengan orang tua, kalah keimanannya, diuji dengan istri, mengalah imannya dan diuji dengan anak, melemah keyakinannya.

Pelajaran selanjutnya adalah tentang kurban. Allah tidak meminta anak kita, Allah tidak meminta istri atau suami kita, Allah tidak meminta semua harta kita, Allah hanya meminta kita mengorbankan hewan ternak untuk disembelih. Dalam hadis dijelaskan “Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduknya, bulunya, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban tersebut akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.”.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim).

Pelajaran selanjutnya adalah bagaimana keberhasilan Ibrahim mendidik seorang anak sampai patuh kepada Allah, bahkan kepatuhannya sampai pada tingkat tidak masuk akal. Disitulah letak pendidikan anak, mari kita didik anak kita supaya patuh seperti patuhnya Ismail. Caranya diberikan makanan yang halal, kemudian dimasukkan dalam pendidikan yang baik, lingkungan yang baik, pesantren dan lainnya. Karena hari ini anak kita diserang dengan tayangan tv, youtube, game online, video porno, LGBT, geng motor, narkoba dan perlilaku negatif lainnya. Semua itu adalah supaya kita ingat kembali, sanggupkah kita menyelamatkan anak kita seperti Ibrahim menyelamatkan anaknya dari rayuan setan.

Ketika kita sanggup maka layak kita menyebut namanya, kama solaita ala ibrhomin, kama barokta ala ibrohim. Tapi kalau kita tidak mampu, kita tidak sanggup, berarti kita sudah gagal. Anak adalah amanah, orang tua yang berhijab, bapak yang rajin solat berjamaah, rajin bersedekah, selangkah menuju surga. Tapi kalau anak tidak dididik dengan baik maka selangkah juga kakinya akan masuk kedalam neraka jahanam.

Maka, mari selamatkan anak-anak kita. Mereka adalah investasi akherat. Belajar dari Ibrahim, belajar dari Siti Hajar. Hajar adalah istri yang solehah, perempuan yang taat pada Allah dan suaminya, perempuan yang menutup aurat dan menjaga kehormatannya. Siti Hajar adalah tipikal model ibu muslimah yang mampu membesarkan seorang anak dengan tawakal dan doa. Ismail ada dari seorang ayah yang soleh, disemai benih di dalam Rahim ibu yang solehah, maka lahirlah seorang anak bernama Ismail. Kemudian, cucu-cicit dari keturunan Ismail lahirlah seorang Nabi besar Rahmat bagi semesta alam, dialah Nabi Muhammad SAW.

Terakhir, kami berdoa semoga haji kami dan haji saudara-saudara kami yang saat ini tengah beribadah di tanah suci diterima dan mendapat gelar haji yang mabrur. Ya Allah, berikanlah kelapangan riski bagi saudara-saudara kami yang belum berhaji agar bisa berangkat haji tahun depan. Ya Allah terimalah kurban saudara-saudara kami yang berkurban tahun ini. Berilah kelapangan rizki bagi kami yang belum berkurban agar bisa berkurban tahun depan Ya Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat, ampunan, dan hidayah-Mu kepada kami semuanya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.