Transmigrasi di Indonesia Memiliki Corak yang Khas

  • Admin Humas
  • Rabu, 19 Januari 2022
  • 1964 Tampilan
Prof. Wan Jamaluddin (kanan) dari tangkapan layar Webinar Nasional; Kesatuan dalam Keberagaman.

Transmigrasi di Indonesia memiliki kekhasan, berbeda dengan migrasi penduduk di negara lainnya yang lebih dilatarbelakangi oleh faktor politik. Demikian disampaikan Prof Wan Jamaluddin PhD yang menjadi keynote speaker pada webinar nasional sejarah, Rabu (19/1/2022).

Menurutnya, transmigrasi membawa multiplier efek. “Tidak hanya soal perpindahan penduduk dari satu tempat ke tempat lain yang wilayahnya masih sepi. Transmigrasi juga membantu peningkatan ekonomi dan kesejahteraan, serta pemerataan penduduk,” paparnya.

Prof Wan menyinggung sejarah transmigrasi di Indonesia. “Transmigrasi pertama dengan motif ekonomi dan pertanian untuk kolonial Belanda. Secara historis program trasnmigrasi dulu adalah politik balas budi Belanda. Membuka lahan yang belum terkelola (yang juga) untuk kepentingan Belanda,” lanjutnya.

Dalam penjelasannya,  Wakil Rektor III UIN Raden Intan Lampung ini memaparkan, pada 1901 pemerintah Belanda memindahkan 155 kepala keluarga dari Desa Bagelen ke sebuah hutan belantara di Lampung melalui program perluasan areal pertanian (kolonisasi). Orang-orang dari Pulau Jawa diangkut ke Lampung untuk membuka areal pertanian untuk kepentingan Belanda.

“Sukses stori (transmigrasi) di Lampung juga tidak terlepas dari adat dan budaya Lampung yang memiliki sikap terbuka, hidup bermartabat, dan nilai-nilai lain yang membantu terselenggaranya transmigrasi,” ungkapnya.

Prof Wan menambahkan, semangat transmigrasi sejatinya adalah semangat cita tanah air, bersatu dalam perbedaan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Webinar ini diselenggarakan Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab UIN Raden Intan Raden Intan Lampung bekerjasama dengan Museum Nasional Ketransmigrasian Lampung dan Universitas Lampung. Kegiatan dengan nama Webinar Nasional; Kesatuan Dalam Keberagaman ini mengusung tema Sejarah Transmigrasi di Indonesia.

Webinar ini menghadirkan empat narasumber. Pertama, Aan Budianto MA (UIN Raden Intan Lampung) memaparkan materi tentang Transmigrasi dan Keindonesiaan; Sejarah Orang Bali di Lampung. Kedua, Hana Kurniati SE (Museum Nasional Ketransmigrasian) dengan judul materi Merawat Masa Lalu untuk Masa Depan Bangsa.

Ketiga, Dr Purwanto Putra MHum (Universitas Lampung) memaparkan tentang Propaganda Kolonisasi dan Kebijakan Informasi Transmigrasi: Dari Masa Pemerintahan Kolonial Belanda Hingga Pemerintahan Orde Baru. Dan keempat, Adi Arwan Alimin (Penulis buku Kampung Jawa di Tanah Mandar) dengan judul materi Apa yang Masih Teringat: Kampung Jawa di Tanah Mandar.

Turut hadir pada webinar ini Dekan Fakultas Adab UIN Dr Mahmudin Bunyamin MAg beserta jajaran, Mantan Rektor Unila yang juga tokoh transmigrasi Prof Muhajir Utomo, dan para peneliti serta sejarawan lainnya. (NF/HI)